Meneladani Pemimpin
13.37
Silih bergantinya waktu, siang menjadi malam dan sebaliknya. Menandakan tidak ada yang abadi didunia ini. Begitu juga dengan pergantian tumpuk kekuasaan di negeri-negeri di dunia ini adalah hal wajar.
Pergantian kukuasaan adalah lumrah dalam dunia politik, baik berlangsung secara konstitusional atau tidak. Ada yang berlangsung secara damai, ada yang secara tindak kekerasaan.
Dengan cara melancarkan tuduhan bermacam-macam yaitu melakukan konspirasi, pembunuhan politik, pelangaran HAM, dan paling banyak adalah tuduhan korupsi. Tapi sesungguhnya semua bermotif politik, yaitu upaya melumpuhkan saingan potensial untuk melenggangkan kekuasaan. Atau, ada juga yang semata-mata melakukan politik balas dendam.
Salah satu contoh, Presiden Pakistan Asif Ali Zardani, suami Almarhumah Benazir Bhutto itu sempat mendekam 11 tahun di penjara karena tuduhan korupsi. Ia bisa keluar dari penjara dengan syarat ia dan istrinya harus meninggalkan Pakistan.
Dipenjara atau keluar dari Pakistan adalah dimaksudkan agar tidak mengganggu rezim baru yang sedang berkuasa. Jelas itu adalah keputusan politis, bukan hukum, meskipun Asif Ali Zardani adalah koruptor. Kalau itu penegakan hukum, ia harus diadili, tidak bisa dilepas dengan syarat harus meninggalkan Pakistan.
Pada akirnya Asif Ali Zardari mendapat amnesti, yg diupayakan melalui perundingan antara Ketua Umum Partai Pakistan, Benazir Bhutto dan Pervez Musharraf. Sehingga tuduhan korupsi dibatalkan. Desember tahun 2007, Benazir Bhutto tewas tertembak dalam suatu kampenye di Rawalpindi. Kemudian, pimpinan Partai Rakyat Pakistan berpindah tangan kepada Asif Ali Zardari.
Bapak mertuanya, Ali Bhutto, lebih tragis lagi nasibnya dan merupakan sebuah contoh yang lain. Pemerintahannya dikudeta Jenderal Zia Ul Haq pada tahun 1977. Ali Bhutto kemudian dituduh melakukan pembunuhan politik, diadili, divonis mati, lalu dieksekusi.
Maka bisa dimengerti kalau tak sedikit bekas penguasa yang terguling melarikan diri ke luar negeri, guna menyelamatkan diri dari jerat politisasi hukum oleh rezim baru. Seperti hal-nya dilakukan Shah Iran (Iran), Ferdinand Marcos(Filipina), Mobutu Sese Seko(Congo), Ausgusto Pinochet(Chili), Alberto Fujimori (Peru), Idi Amin(Uganda), dan beberapa contoh yang lain.
Bebeda dengan Megawati Soekarno Putri di kancah politik Indonesia. Dijaman orde baru, ia bertahun-tahun menjadi oposisi atau penentang Pemerintahan Presiden Soeharto, dengan segala kensekuensinya. Tetapi ketika naik ke tumpuk kekuasaan, ia tak melakukan balas dendam politik.
Memang kalau diperhatikan, balas dendam politik dengan melakukan politisasi hukum banyak terjadi di negara berkembang. Tapi tidak terjadi di Indonesa pada waktu Megawati naik ke tumpuk kekuasaan.
Seperti kita ketahui bersama, Presiden Soeharto mengudurkan diri pada Mei 1998. Tapi ia tak memilih langkah lari meninggalkan negerinya, seperti yang ditempuh Shah Iran, Ferdinand Marcos, dan Alberto Fujimori. Setelah tak lagi menjabat presiden, Soeharto memutuskan tetap berada di Indonesia, menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa.
Megawati naik ke tumpuk kekuasaan melalui Pemilihan Umum 1999, mula-mula menjadi wakil presiden dan kemudian presiden. Ternyata Megawati tak memilih melakukan balas dendam politik kepada Soeharto. Dan ia teguh pada sikap yang telah dipilihnya.
Berbagai gelombang tekanan demi tekanan menerpanya. Ia dipaksa harus mengadili Soeharto. Lebih-lebih lagi, Megawati kelihatan tak berminat mengusut kasus 27 Juli 1996, pernyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Jakarta, yang menimbulkan korban kalangan pendukungnya sendiri.
Padahal kekuasaan ada ditangannya. Sebagai kensekuensinya, Megawati mendapat kecaman dari pendukungnya sendiri, massa PDI Perjuangan.
Tapi memang Megawati adalah tipe pemimpin yang teguh pada pendiriannya. Sekali keputusan telah diambil, segala resiko yang timbul dihadapinya. Sungguh wanita pemberani itu tak ingin melakukan pembalasan dendam politik, sekalipun tekanan bertubi-tubi datang menerpanya.
Sikap Megawati itu seperti yang diteladankan The Super Leader Muhammad SAW, ketika menaklukan kota Mekkah di tahun 630M. Tak ada pelampiasan dendam politik kepada kaum Quraisy. Sekali pun Rasulullah dihinakan dan dipaksa keluar dari Mekkah dan menyingkir ke Madinah. Sekali pun tak sedikit para pengikutnya yang korban kekejaman kaum Quraisy.
Apa yang terjadi ketika Rasulullah dengan pengikutnya dari Madinah mesasuki kota Mekkah, dengan perlawanan yang tak berarti dari kaum Quraisy? Rasulullah memasuki tenda merah di dekat Ka'bah, membersihkan diri, lalu menunggang untanya, Rasulullah mengelilingi Ka'bah tujuh kali, menyentuh Hajar Aswad dalam setiap putaran sembari bertakbir;"Allahu Akbar", dan disambut gempita oleh pengikutnya. Mereka membersihkan Ka'bah dari ratusan berhala yang selama ini menghiasi.
Kemudian orang-orang Mekkah berkumpul didepan Ka'bah. Dihadapan mereka Rasulullah mengumumkan amnesti kepada semua penduduk Mekkah, kecuali 10 orang yang dianggap telah melakukan kejahatan yang teramat besar. Tapi mereka yang 10 orang itu akirnya selamat setelah menyatakan penyesalannya dan meminta maaf.
Salah satu diantaranya adalah Hindun, istri Abu Sofyan. Hindun telah memutilasi tubuh Hamzah, paman Rasulullah dalam suatu peperangan. Tapi Hindun dimaafkan karena telah memeluk Islam. Begitu juga dengan Abdullah Bin Said, ia dimaafkan padahal orang ini sudah pernah masuk Islam dan menjadi sekretaris Rasulullah, tapi sengaja mencatat wahyu secara keliru, lalu membelot ke pihak Quraisy.
Pendek kata penaklukan Mekkah terjadi tanpa pembalasan dendam dari pihak yang menang terhadap pihak yang dikalahkan. Sekali pun dulu (sebelumnya) pihak yang dikalahkan itu teramat kejam.
Saya menulis tentang Ibu Megawati bukan bermaksud untuk kepentingan politik. Ini hanya meneladani beliau sebagai pemimpin yang punya pendirian teguh dan tak membiarkan ada dendam dihatinya. Mengingat pula sabda Muhammad SAW, "Orang-orang yang hebat itu bukanlah orang yang paling cepat serangannya. Melainkan, orang yang hebat itu adalah orang yang mampu mengalahkan nafsunya ketika sedang marah."
Saya yakin, Ibu Megawati juga meneladani Rasulullah Muhammad SAW.
Marilah kita meneladani para pemimpin besar terutama Rasulullah SAW. Karna setiap diri kita adalah pemimpin bagi diri kita masing-masing dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinan. Maka jadilah pemimpin atas diri kita sendiri, jangan sampai orang lain yang memimpin atas diri kita.
Memimpin diri sendiri berarti mengembangkan kemampuan dan proses untuk mengalami tingkat pengenalan diri yang lebih tinggi, melebihi tingkat ego reaktif. Hal ini akan memfasilitasi perjalanan dari batas membawa kepada kesadaran kreatif, suatu sintesa antara kecerdasan intelektual, intuitif, dan emosi. Hal ini akan memungkinkan seseorang untuk mampu mengelola hubungan dengan orang lain, peristiwa, gagasan, yang merupakan esensi dari kepemimpinan.
Dari berbagai sumber :
"The Mass Killers 0f The Twentieth Century, Mereka Bicara Mega, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager."
Pergantian kukuasaan adalah lumrah dalam dunia politik, baik berlangsung secara konstitusional atau tidak. Ada yang berlangsung secara damai, ada yang secara tindak kekerasaan.
Dengan cara melancarkan tuduhan bermacam-macam yaitu melakukan konspirasi, pembunuhan politik, pelangaran HAM, dan paling banyak adalah tuduhan korupsi. Tapi sesungguhnya semua bermotif politik, yaitu upaya melumpuhkan saingan potensial untuk melenggangkan kekuasaan. Atau, ada juga yang semata-mata melakukan politik balas dendam.
Salah satu contoh, Presiden Pakistan Asif Ali Zardani, suami Almarhumah Benazir Bhutto itu sempat mendekam 11 tahun di penjara karena tuduhan korupsi. Ia bisa keluar dari penjara dengan syarat ia dan istrinya harus meninggalkan Pakistan.
Dipenjara atau keluar dari Pakistan adalah dimaksudkan agar tidak mengganggu rezim baru yang sedang berkuasa. Jelas itu adalah keputusan politis, bukan hukum, meskipun Asif Ali Zardani adalah koruptor. Kalau itu penegakan hukum, ia harus diadili, tidak bisa dilepas dengan syarat harus meninggalkan Pakistan.
Pada akirnya Asif Ali Zardari mendapat amnesti, yg diupayakan melalui perundingan antara Ketua Umum Partai Pakistan, Benazir Bhutto dan Pervez Musharraf. Sehingga tuduhan korupsi dibatalkan. Desember tahun 2007, Benazir Bhutto tewas tertembak dalam suatu kampenye di Rawalpindi. Kemudian, pimpinan Partai Rakyat Pakistan berpindah tangan kepada Asif Ali Zardari.
Bapak mertuanya, Ali Bhutto, lebih tragis lagi nasibnya dan merupakan sebuah contoh yang lain. Pemerintahannya dikudeta Jenderal Zia Ul Haq pada tahun 1977. Ali Bhutto kemudian dituduh melakukan pembunuhan politik, diadili, divonis mati, lalu dieksekusi.
Maka bisa dimengerti kalau tak sedikit bekas penguasa yang terguling melarikan diri ke luar negeri, guna menyelamatkan diri dari jerat politisasi hukum oleh rezim baru. Seperti hal-nya dilakukan Shah Iran (Iran), Ferdinand Marcos(Filipina), Mobutu Sese Seko(Congo), Ausgusto Pinochet(Chili), Alberto Fujimori (Peru), Idi Amin(Uganda), dan beberapa contoh yang lain.
Bebeda dengan Megawati Soekarno Putri di kancah politik Indonesia. Dijaman orde baru, ia bertahun-tahun menjadi oposisi atau penentang Pemerintahan Presiden Soeharto, dengan segala kensekuensinya. Tetapi ketika naik ke tumpuk kekuasaan, ia tak melakukan balas dendam politik.
Memang kalau diperhatikan, balas dendam politik dengan melakukan politisasi hukum banyak terjadi di negara berkembang. Tapi tidak terjadi di Indonesa pada waktu Megawati naik ke tumpuk kekuasaan.
Seperti kita ketahui bersama, Presiden Soeharto mengudurkan diri pada Mei 1998. Tapi ia tak memilih langkah lari meninggalkan negerinya, seperti yang ditempuh Shah Iran, Ferdinand Marcos, dan Alberto Fujimori. Setelah tak lagi menjabat presiden, Soeharto memutuskan tetap berada di Indonesia, menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa.
Megawati naik ke tumpuk kekuasaan melalui Pemilihan Umum 1999, mula-mula menjadi wakil presiden dan kemudian presiden. Ternyata Megawati tak memilih melakukan balas dendam politik kepada Soeharto. Dan ia teguh pada sikap yang telah dipilihnya.
Berbagai gelombang tekanan demi tekanan menerpanya. Ia dipaksa harus mengadili Soeharto. Lebih-lebih lagi, Megawati kelihatan tak berminat mengusut kasus 27 Juli 1996, pernyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Jakarta, yang menimbulkan korban kalangan pendukungnya sendiri.
Padahal kekuasaan ada ditangannya. Sebagai kensekuensinya, Megawati mendapat kecaman dari pendukungnya sendiri, massa PDI Perjuangan.
Tapi memang Megawati adalah tipe pemimpin yang teguh pada pendiriannya. Sekali keputusan telah diambil, segala resiko yang timbul dihadapinya. Sungguh wanita pemberani itu tak ingin melakukan pembalasan dendam politik, sekalipun tekanan bertubi-tubi datang menerpanya.
Sikap Megawati itu seperti yang diteladankan The Super Leader Muhammad SAW, ketika menaklukan kota Mekkah di tahun 630M. Tak ada pelampiasan dendam politik kepada kaum Quraisy. Sekali pun Rasulullah dihinakan dan dipaksa keluar dari Mekkah dan menyingkir ke Madinah. Sekali pun tak sedikit para pengikutnya yang korban kekejaman kaum Quraisy.
Apa yang terjadi ketika Rasulullah dengan pengikutnya dari Madinah mesasuki kota Mekkah, dengan perlawanan yang tak berarti dari kaum Quraisy? Rasulullah memasuki tenda merah di dekat Ka'bah, membersihkan diri, lalu menunggang untanya, Rasulullah mengelilingi Ka'bah tujuh kali, menyentuh Hajar Aswad dalam setiap putaran sembari bertakbir;"Allahu Akbar", dan disambut gempita oleh pengikutnya. Mereka membersihkan Ka'bah dari ratusan berhala yang selama ini menghiasi.
Kemudian orang-orang Mekkah berkumpul didepan Ka'bah. Dihadapan mereka Rasulullah mengumumkan amnesti kepada semua penduduk Mekkah, kecuali 10 orang yang dianggap telah melakukan kejahatan yang teramat besar. Tapi mereka yang 10 orang itu akirnya selamat setelah menyatakan penyesalannya dan meminta maaf.
Salah satu diantaranya adalah Hindun, istri Abu Sofyan. Hindun telah memutilasi tubuh Hamzah, paman Rasulullah dalam suatu peperangan. Tapi Hindun dimaafkan karena telah memeluk Islam. Begitu juga dengan Abdullah Bin Said, ia dimaafkan padahal orang ini sudah pernah masuk Islam dan menjadi sekretaris Rasulullah, tapi sengaja mencatat wahyu secara keliru, lalu membelot ke pihak Quraisy.
Pendek kata penaklukan Mekkah terjadi tanpa pembalasan dendam dari pihak yang menang terhadap pihak yang dikalahkan. Sekali pun dulu (sebelumnya) pihak yang dikalahkan itu teramat kejam.
Saya menulis tentang Ibu Megawati bukan bermaksud untuk kepentingan politik. Ini hanya meneladani beliau sebagai pemimpin yang punya pendirian teguh dan tak membiarkan ada dendam dihatinya. Mengingat pula sabda Muhammad SAW, "Orang-orang yang hebat itu bukanlah orang yang paling cepat serangannya. Melainkan, orang yang hebat itu adalah orang yang mampu mengalahkan nafsunya ketika sedang marah."
Saya yakin, Ibu Megawati juga meneladani Rasulullah Muhammad SAW.
Marilah kita meneladani para pemimpin besar terutama Rasulullah SAW. Karna setiap diri kita adalah pemimpin bagi diri kita masing-masing dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinan. Maka jadilah pemimpin atas diri kita sendiri, jangan sampai orang lain yang memimpin atas diri kita.
Memimpin diri sendiri berarti mengembangkan kemampuan dan proses untuk mengalami tingkat pengenalan diri yang lebih tinggi, melebihi tingkat ego reaktif. Hal ini akan memfasilitasi perjalanan dari batas membawa kepada kesadaran kreatif, suatu sintesa antara kecerdasan intelektual, intuitif, dan emosi. Hal ini akan memungkinkan seseorang untuk mampu mengelola hubungan dengan orang lain, peristiwa, gagasan, yang merupakan esensi dari kepemimpinan.
Dari berbagai sumber :
"The Mass Killers 0f The Twentieth Century, Mereka Bicara Mega, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager."
Posting Komentar